Amazon Deals

Senin, 25 Oktober 2010

Konsep Dasar Sosiologi


Konsep Dasar Sosiologi

Konsep Individu, Kelompok dan Masyarakat
A.    Konsep Individu
Individu dalam hal ini merupakan konsep sosiologis yang berarti bahwa konsep individu tidak boleh diartikan sama dengan konsep sosial. Di dalam kehidupan sehari-hari individu menunjuk pada subyek yang melakukan sesuatu, mempunyai pikiran, mempunyai kehendak, mempunyai kebebasan, member arti pada sesuatu, mampu menilai tindakan dan hasil tindakannya sendiri. Dengan kata lain individu adalah subyek yang bertindak.
Menurut harfiah individu berasal dari kata in-divider, artinya tidak dapat dibagi-bagikan atau sebagai sebutan bagi manusia yang berdiri sendiri. Dalam kaitannya dengan individu aristoteles berpendapat bahwa manusia merupakan penjumlahan kemampuan vegetative, kemampuan sensitive dan kemampuan intelektual yang mengharuskan manusia saling berhubungan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai akibatnya muncullah kelompok-kelompok social (social group).
B.     Kelompok dan Masyarakat
  1. Individu sebagai Makhluk Sosial
Manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan sesame manusia lain di dalam menjalani kehidupannya. Sejak dilahirkan manusia merupakan individu yang membutuhkan/ berhubungan individu lainnya untuk dapat bertahan dan melangsungkan hidupnya. Naluri untuk selalu berhubungan dengan sesamanya ini dilandasi oleh alasan karena keinginan manusia untuk menjadi satu dengan manusia lain (bermasyarakat) dan keinginan untuk menjadi satu dengan alam sekelilingnya.
Keinginan/ kebutuhan manusia untuk saling berinteraksi tersebut melahirkan kelompok-kelompok social yang dilandasi oleh kesamaan kepentingan.
  1. Kelompok Sosial
Kebutuhan manusia untuk saling berinteraksi tersebut melahirkan kelompok-kelompok sosila. Untuk dikatakan sebagai kelompok social, terdapat persyaratan sebagi berikut :
a.       Adanya kesadaran dari anggota kelompok tersebut bahwa ia merupakan bagian kelompok.
b.      Adanya hubungan timbale balik antara anggota yang satu dengan lainnya.
c.       Adanya faktor pemersatu (kepentingan bersama dan ideologi yang sama).
d.      Berstruktur, berkaidah dan mempunyai pola perilaku.
Jadi, kelompok terbentuk melalui proses interaksi dan proses sosial, dimana manusia terhimpun dan bersatu dalam kehidupan bersama berdasarkan hubungan timbal balik, saling mempengaruhi dan memiliki kesamaan untuk tolong-menolong.
Macam-macam kelompok sosial, meliputi klasifikasi tipe-tipe kelompok dari sudut individu
1.      Klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial
Kelompok sosial yang ada di masyarakat dapat diklasifikasikan berdasarkan:
  • Besar-kecilnya jumlah anggota
  • Derajat interaksi sosial
  • Kepentingan dan wilayah
  • Berlangsungnya suatu kepentingan
  • Derajat organisasi
  • Kesadaran akan jenis yang sama, hubungan sosial dan tujuan.
2.      Kelompok Sosial Dipandang dari Sudut Individu
Seorang warga masyarakat yang masih bersahaja susunannya, secara relatif menjadi anggota pula dari kelompok-kelompok kecil lain secara terbatas. Kelompok sosial termaksud biasanya adalah atas dasar kekerabatan, usia, seks dan kadang-kadang atas dasar perbedaan pekerjaan. Suatu ukuran bagi si individu adalah bahwa dia merasa lebih tertarik pada kelompok-kelompok sosial yang dekat dengan kehidupan seperti keluarga, kelompok kekerabatan dan rukun keluarga, daripada misalnya dengan suatu perusahaan besar atau negara.
3.      In-Group dan Out-Group
Konsep In-group dan out group merupakan pencerminan dari adanya kecenderungan dari sikap ethnocentrism dari individu-individu dalam proses sosialisasi sehubungan dengan keanggotaannya pada kelompok sosial. Sikap in group biasanya didasari oleh perasaan simpati, sedangkan out group didasarkan pada kelainan dengan wujud antagonisme  atau antipati.
4.      Kelompok Primer (Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)
a.       Kelompok primer (primary group) atau face to face group merupakan kelompok yang paling sederhana di mana anggota kelompoknya saling mengenal dan ada kerja sama yang erat.
b.      Kelompok sekunder (secondary group) adalah kelompok yang terdiri dari banyak orang, antara siapa hubungannya tidak perlu didasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya tidak begitu langgeng.
5.      Paguyuban (Gemeinschaft) dan Petembayan (Gesellschaft)
  • Paguyuban (Gemeinchaft) adalah bentuk kehidupan bersama, di mana anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta kekal. Dasar hubungan adalah rasa cinta dan rasa persatuan batin.
  • Patembayan (Gesellschaft) adalah ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya untuk jangka waktu pendek, serta bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka.
6.      Formal Group dan Informal Group
  • Formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antara sesamanya.
  • Informal group tidak mempunyai struktur dan organisasi tertentu atau yang pasti, terbentuk karena pertemuan yang berulang kali yang menjadi dasar bertemunya kepentingan dan pengalaman yang sama.
7.      Kelompok-Kelompok Sosial yang Tidak Teratur
a.       Kerumunan (Crowd)
Kerumunan (crowd) adalah individu-individu yang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat dan juga pada waktu yang bersamaan. Kerumunan mempunyai ciri-ciri bersifat spontan dan orang-orang yang berkumpul mempunyai kedudukan yang sama.


b.      Publik
Publik merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi yang terjadi berlangsung melalui alat-alat komunikasi pendukung seperti pembicaraan berantai secara individu, media massa maupun kelompok.
8.      Masyarakat Pedesaan (Rural Community) dan Masyarakat Perkotaan (Urban Community)

Interaksi Sosial, Pranata dan Struktur Sosial
A.    Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun antar individu dan kelompok.
Ciri-Ciri Interaksi Sosial
Menurut Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain :
a.       Jumlah pelakunya lebih dari satu orang.
b.      Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial
c.       Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas
d.      Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu
B.     Pranata dan Struktur Sosial
Pranata sosial pada dasarnya adalah sistem norma yang mengatur segala tindakan manusia dalam memenuhi kebutuhan pokoknya dalam hidup bermasyarakat. Seperti yang telah dijelaskan di depan, pranata sosial di masyarakat mempunyai beberapa fungsi. Fungsi-fungsi pranata tersebut terwujud dalam setiap macam pranata yang ada di masyarakat. Adapun macam-macam pranata sosial yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat, antara lain pranata keluarga, pranata agama, pranata ekonomi, pranata pendidikan, dan pranata politik.

Peran dan Status Individu dalam Kehidupan Bermasyarakat
A.    Kedudukan
Menurut Soerjono Soekanto kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan kelompok-kelompok lainnya di dalam kelompok yang lebih besar. Menurut kamus sosial status diartikan sebagai :
1.      Posisi dalam suatu hierarki
2.      Suatu wadah bagi hak dan kewajiban
3.      Aspek statis dari peranan
4.      Prestise yang berkaitan dengan suatu posisi
5.      Jumlah peranan ideal dari seseorang.
B.     Peranan
Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan. Dengan demikian, antara peranan dan kedudukan tak dapat dipisah-pisahkan, tak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peranan.
Dalam mempelajari tentang peran, Schneider menjelaskan adanya tiga aspek tentang konsep peran, yakni berikut ini:
  1. Peran menyalurkan tindakan manusia ke arah tertentu.
  2. Ada hubungan antara nilai-nilai dan peran.
  3. Menunjukkan bahwa pelaksanaan peran dipelajari dan dalam beberapa hal menjadi bagian dari kepribadian.
C.     Tujuan Peran
  1. Tujuan Instrumental, tujuan ini dimaksudkan adalah dengan memainkan suatu peran adalah kesempatan untuk mencapai tujuan lain. Seperti contohnya, sekolah untuk menjadi wirausaha.
  2. Penghargaan, tujuan yang di generalisasi kedua yang disediakan oleh peran ialah kesempatan dihargai.
  3. Rasa aman
  4. Respon, tujuan yang di generalisasi ialah kesempatan yang diberikan peran-peran tertentu untuk membentuk hubungan sosial yang memuaskan.

Modul 8
Konsep Dasar Antropologi

Kegiatan Belajar 1
Dinamika Budaya Indonesia
A.    Definisi Kebudayaan
Kebudayaan itu adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Definisi lain tentang kebudayaan dikemukakan oleh R. Linton dalam bukunya "The Culture Background of Personality" (1947), menyatakan bahwa kebudayaan adalah konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu. Selanjutnya, Koentjaraningrat (1990:180), menyatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Sejalan dengan pemikiran Koentjaraningrat, Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964:114), mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Soekmono dalam bukunya "Pengantar Sejarah Kebudayaan I" (1973), mengatakan bahwa kebudayaan adalah segala ciptaan manusia dalam usahanya merubah dan member! bentuk dan susunan baru terhadap pemberian Tuhan sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rohaninya.
Parsudi Suparlan (1981), mengatakan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang dimanipulasikan untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan yang dihadapi dan untuk menciptakan serta mendorong terciptanya kelakuan.
Menurut Suhandi (1994:6), kebudayaan memiliki ciri-ciri umum, yaitu sebagai berikut:
1.      Kebudayaan dipelajari.
2.      Kebudayaan diwariskan atau diteruskan.
3.      Kebudayaan hidup dalam masyarakat.
4.      Kebudayaan dikembangkan dan berubah.
5.      Kebudayaan itu terintegrasi.
B.     Unsur-Unsur Kebudayaan
Menurut   Kluckhon  yang  dikutip  Koentjaraningrat  (1990:2003-204), terdapat tujuh unsur dari kebudayaan di dunia, antara lain berikut ini.
  1. Bahasa.
Kemampuan berbahasa adalah ciri khas dari makhluk yang namanya manusia. Kebutuhan akan kemampuan berbahasa sejalan dengan kebutuhan akan interaksi sosial. Interaksi sosial di sini tidak hanya interaksi antar individu dalam kelompok, tetapi juga dengan kelompok lain. Oleh karena itu, bahasa alat komunikasi yang mempunyai kaitan erat dengan proses perubahan masyarakat dan kebudayaan.
  1. Sistem pengetahuan.
Sistem pengetahuan merupakan salah satu unsur kebudayaan universal yang dapat ditemukan dalam semua kebudayaan dari semua bangsa yang ada di muka bumi ini. Sistem pengetahuan itu mencakup semua pengetahuan yang dimiliki anggota-anggota suatu masyarakat tentang alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, ruang dan waktu, serta benda-benda yang terdapat di sekeliling tempat hidup masyarakat, suku bangsa atau bangsa yang bersangkutan
  1. Organisasi sosial.
Dalam tiap masyarakat, kehidupan masyarakat diorganisasi atau diatur oleh adat-istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai kesatuan di dalam lingkungan mana ia hidup dan bergaul. Kesatuan sosial yang paling dekat dan mesra adalah kesatuan kerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat, dan kaum kerabat yang lain. Kemudian, ada kesatuan-kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi masih dalam lingkungan komunitasnya.
  1. Sistem peralatan hidup dan teknologi.
Sistem peralatan hidup adalah segala alat-alat yang digunakan manusia dalam kegiatan sehari-hari dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Termasuk ke dalamnya adalah alat-alat yang digunakan dalam kegiatan bercocok tanam, berburu dan menangkap ikan, alat-alat rumah tangga. alat-alat angkutan. pertukangan, kerajinan serta perlengkapan lainnya. seperti pakaian, perhiasan.
  1. Sistem mata pencaharian hidup
Perhatian para ahli antropologi terhadap berbagai macam sistem mata pencaharian atau sistem ekonomi pada awalnya hanya terbatas pada sistem yang bersifat tradisional, terutama dalam rangka perhatian mereka terhadap kebudayaan suatu suku bangsa secara holistik. berbagai sistem tersebut adalah berburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang, menangkap ikan, dan bercocok tanam menetap dengan irigasi.
  1. Sistem religi
Pada hakikatnya unsur kebudayaan yang disebut religi adalah amat kompleks, dan berkembang di berbagai tempat di dunia. Bagaimanakah untuk pertama kali timbul aktivitas religi itu dalam masyarakat manusia, hanya bisa menjadi objek dari berbagai macam spekulasi yang melahirkan berbagai teori asal mula dari religi, tetapi mungkin tak pernah akan dapat diketahui dengan sebenarnya. Sungguhpun demikian, kalau kita tinjau sebanyak mungkin bentuk religi dari sebanyak mungkin suku bangsa di dunia maka akan tampak adanya empat unsur pokok dari religi pada umumnya, ialah berikut ini.
  1. Kesenian.
Kesenian merupakan unsur kebudayaan universal yang sudah pasti akan didapatkan pada semua kebudayaan semua bangsa yang hidup di muka bumi ini, baik bangsa yang hidupnya terpencil, maupun bangsa-bangsa yang sudah maju. Demikian juga bangsa Indonesia yang merupakan masyarakat yang majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan mendukung kebudayaan yang berbeda-beda itu tampak bahwa setiap suku bangsa itu mengembangkan bentuk-bentuk dan jenis-jenis kesenian yang beraneka ragam.
C.     Perkembangan Kebudayaan
Oleh karena kebudayaan adalah semua hasil pengetahuan dan ciptaan manusia yang diperoleh dari belajar. Sistem pengetahuan manusia terus berkembang dari mulai ada di bumi sampai sekarang maka tentu saja segala sesuatu yang dihasilkan manusia itu sudah sangat banyak.
Aspek kebudayaan dapat hilang apabila kurang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan diganti oleh aspek lain yang lebih berdaya guna. Sebaliknya aspek yang lain bisa bertambah sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia. Perubahan kebudayaan ini dapat disebabkan oleh faktor dari dalam (internal) masyarakat itu sendiri dan dapat pula oleh faktor yang berasal dari luar (eksternal) masyarakat itu sendiri.
D.    Keanekaragaman Budaya Indonesia
Banyak orang bicara tentang kebudayaan, akan tetapi pengertian yang dipakai   oleh   setiap   pembicara   belum   tentu   sama.   Sementara   orang menggunakan istilah kebudayaan untuk menyatakan hasil karya manusia yang indah-indah atau dengan lain perkataan terbatas pada kesenian. Di lain pihak orang menggunakan istilah kebudayaan untuk menyatakan ciri-ciri yang nampak pada sekelompok anggota masyarakat tertentu sehingga dapat dipergunakan untuk membedakan dengan kelompok masyarakat yang lain. Ada pula yang menggunakan istilah kebudayaan untuk menyatakan tingkat kemajuan teknologi yang didukung oleh tradisi tertentu untuk membedakan kebudayaan  yang   belum   banyak menggunakan  peralatan   mesin   dan teknologinya masih terbelakang.
Timbul pertanyaan apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan kebudayaan apabila orang membicarakan tentang kebudayaan Indonesia, tentang nilai-nilai budaya yang perlu "diwariskan", ataupun  tentang   kebudayaan  yang   merupakan   daya  tarik  utama   guna meningkatkan devisa pariwisata.
Kalau demikian, fungsi kebudayaan yang dikembangkan oleh masyarakat pendukungnya itu merupakan alat penyambung non-jasmaniah yang mempermudah upaya manusia memenuhi kebutuhan pokok maupun dalam usahanya memahami lingkungan di mana mereka merupakan bagiannya. Tidaklah mengherankan pula kalau suatu masyarakat pendukung suatu kebudayaan tertentu dapat menyatakan diri mereka berbeda dengan kelompok sosial lainnya, oleh karena mereka dilahirkan dan dibesarkan serta dibiasakan dengan kerangka acuan yang berbeda. Oleh karena itu, kebudayaan dapat dipergunakan sebagai ciri yang membedakan suatu kelompok sosial tertentu terhadap kelompok sosial pendukung kebudayaan yang lain.
Indonesia yang majemuk ini sangat kaya dengan kebudayaan. Bahkan kebudayaan yang beraneka ragam itu merupakan modal utama yang dapat dipasarkan lewat pariwisata untuk meningkatkan penghasilan devisa. Namun demikian, tidaklah banyak orang yang mampu menjelaskan dengan jelas dan baik di mana kebhinekaan serta ketinggalan kebudayaan Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Sesungguhnya apa yang dibanggakan oleh kebanyakan orang bahwa masyarakat bangsa Indonesia mempunyai aneka ragam kebudayaan yang berkembang di kepulauan Nusantara, memang tidak jauh dari kebenaran. Masyarakat bangsa Indonesia yang terdiri dari suku-suku bangsa yang besar maupun yang kecil itu masing-masing mengembangkan kebudayaan sebagai perwujudan berbangsa aktif mereka terhadap lingkungan pendukungnya masing-masing. Demikian aneka ragam kebudayaan yang berkembang di kepulauan Nusantara itu dihayati sebagai kerangka acuan dalam bersikap dan I menentukan tindakan, serta sebagai ciri pengenal yang membedakan diri dari kelompok suku bangsa yang lain sebagaimana tercermin dalam hasil sensus yang pertama dan yang terakhir yang memuat tentang suku bangsa penduduk di Indonesia, yaitu sensus yang diselenggarakan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1930.

Kegiatan Belajar 2
Upaya Pelestarian Budaya Asli
Bangsa Indonesia yang terdiri atas aneka ragam suku bangsa dan kebudayaan itu masih banyak memperlihatkan banyak unsur persamaan karena berasal dari satu nenek moyang yang sama. Keanekaragaman dalam kesamaan itu seperti juga yang tersirat dalam Bhinneka Tunggal Ika, yaitu "berbeda-beda tetapi satu jua" mencerminkan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Di samping perasaan bangga bagi bangsa kita atas kekayaan kebudayaan bangsa itu, juga kadang-kadang timbul masalah yang disebabkan oleh sifat aneka ragam itu, terutama masalah-masalah yang berhubungan dengan pembentukan kebudayaan nasional Indonesia. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa yang perlu dipelihara dan dikembangkan sebagai kekayaan budaya bangsa.
Terdapat empat ketentuan arah dan tujuan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Pertama, kebudayaan nasional yang hendak dikembangkan itu harus benar-benar merupakan perwujudan hasil upaya dan tanggapan aktif masyarakat Indonesia dalam proses adaptasi terhadap lingkungannya dalam arti luas. Kedua, kebudayaan nasional itu merupakan perpaduan puncak-puncak kebudayaan daerah sehingga mewujudkan konfigurasi budaya bangsa. Ketiga, pengembangan kebudayaan nasional itu harus menuju ke arah kemajuan adab yang dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Keempat, tidak menutup kemungkinan untuk menyerap unsur-unsur kebudayaan asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya kebudayaan nasional, serta mempertinggi kemanusiaan bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar