Sabtu, 02 Juni 2012

MODEL PEMBELAJARAN MONTESSORI

Filsafat Eksisitensialisme Manusia bukan semata-mata obyek, tetapi juga sebagai subject yang dapat memberi arti terhadap dirinya sendiri dan benda-benda lain. Karena manusia dapat memperlakukan obyek yang berada di luar dirinya. Pendidikan merupakan upaya mewujudkan diri sendiri melalui proses penghayatan dan belajar sendiri. PRINSIP 1. Semua bentuk pendidikan adalah pendidikan diri sendiri Seorang pendidik tidak akan mungkin dapat mengalihkan atau menuangkan segala kemampuan kecerdasan, perasaan, kemampuan atau ketekunannya kedalam jiwa seoprang anak didik. Berkembangnya seorang anak hanya bisa berlangsung jika anak itu sendiri menunjukkan otoaktivitas untuk mengembangkan jasmani maupun rohaninya. Pendidikan hanya dapat menyediakan alat-alat, kesempatan serta pertolongan sebagai bentuk stimulasi agar anak itu menunjukkan otoaktivitasnya. 2. Pendidikan pedosentris Setiap anak memiliki pembawaan, kesanggupan, perkembangan serta kodratnya masing-masing. Pendidikan harus bertitik tolak darib keadaan anak secara individual. Oleh karena itu pendidikan harus disesuaikan dengan keadaan anak tersebut secara individual. Pendidikan harus dapat melayani anak secara individual. 3. Masa peka Masa peka dapat digambarkan sebagai suatu keadaan dimana suatu potensi menunjukkan kepekaan (sensitive) untuk berkembang. Hal ini akan terjadi jika anak memperoleh stimulus yang yang cukup pada potensi tersebut untuk berkembang. Masa peka juga merupakan saat yang paling tepat, paling hebat, dan paling sensitive bagi tumbuh dan berkembangnya suatu potensi tertentu. 4. Anak memperoleh kebebasan untuk berkembang. Pendidikan haruslah pedosentris karena yang menjadi pusat ksgiatan pendidikan itu adalah kesanggupan dan kemampuan anak. Maka anak harus diberikan kebebasan untuk mengembangkan potensinya. Tugas pendidik yang utama adalah menciptakan kondisinya serta menjauhkan segala hal yang dapat merintangi atau menghalangi perkembangan potensi anak. PENDEKATAN 1. Pendekatan inquiri Melalui pendekatan ini anak akan berusaha untuk mencari dan menemukan sendiri pemahamannya terhadap suatu materi. Mereka akan memahami bahan kajian dengan menggunakan bahasa mereka sendiri berdasarkan apa yang mereka lihat, temukan dan alami. 2. Pendekatan children centred Pendekatan ini beranggapan bahwa pusat kegiatan pembelajaran bertitik tolak pada aktivitas anak. Cara pandang ini meyakini bahwa murid memiliki kemampuan sendiri melalui berbagai aktivitas dalam mencari, menemukan, menyimpulkan serta mengkomunikasikan sendiri berbagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai. 3. Pendekatan discovery Pendekatan ini memiliki cara pandang yang memusatkan kegiatan pembelajaran pada aktivitas anak didik untuk menemukan sendiri berbagai aspek pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai melalui berbagai pengalaman yang dirancang dan diciptakan oleh guru. METODE 1. Metode eksperimen Metode ini menuntut keaktifan anak untuk melakukan percobaan sendiri, mengamati proses dan hasil percobaan yang dilakukannya. Dengan eksperimen anak dapat mencari dan menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapinya dengan berpikir dan bekerja secara sistematis. 2. Metode demonstrasi Salah satu metode yang dilakukan dengan cara memperlihatkan suatu bentuk proses atau kejadian tertentu agar dapat diikuti oleh anak. Dalam metode ini selain melihat, anak juga dituntut untuk mendengarkan keterangan guru agar tujuan demonstrasi dapat tercapai. 3. Metode sintesa Metode ini digunakan dalan pembelajaran bahasa. Metode ini didasarkan pada ilmi jiwa yang dianut Montessori yakni ilmu jiwa unsure (mozaik) dengan menggunakan teori asosiasi (pertalian). Ilmu ini memberikan pengertian bahwa suatu unsure sksn mempunyai makna jika unsure tersebut bertalian atau berhubungan dengan unsure lainnya sehingga membentuk suatu arti. SUMBER BELAJAR 1. Alat- alat permainan panca indera Montessori termasuk tokoh yang meyakini bahwa panca indera adalah pintu masuknya berbagai pengetahuan ke dalam otak manusia. Karena perannya yang sangat strategis maka seluruh panca indera harus memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai dengan fungsinya. Untuk itulah ia mengembangkan berbagai alat permainan panca indera. 2. Latihan kegiatan sehari-hari Dengan belajar melakukan kegiatan sehari-hari dan menyiapkan kebutuhannya sendiri, dapat melatih anak untuk menguasai gerakan otot-otot yang praktis, latihan itu dinamai latihan motorik. Kegiatan tersebut akan dapat menumbuhkan keaktifan anak dan juga membiasakan anak bersikap baik pada waktu bercakap dengan orang lain. 3. Tulisan disertai gambar Digunakan untuk pendidikan kecerdasan dan daya ingat anak. Anak-anak akan tertarik pada media bergambar dan berwarna yang dapat mengalihkan perhatiannya sehingga proses pembelajaran akan lebih mudah. 4. Alat permainan bahasa Pembelajaran bahasa tidak harus menggunakan buku teks panduan. Pembelajaran bahasa dapat dilakukan dengan menggunakan alat permainan. Misalnya, untuk mengajarkan menulis dapat dilakukan dengan cara meminta anak menuliskan pengalamannya pada saat pagi haeri ketika bangun tidur sampai ia berada di sekolah. Pada saat itu ia tidak akan meras berada dalam suasana belajar, sehingga pembelajaran akan terasa lebih menyenangkan 5. Alat permainan berhitung Alat permainan ini dapat berasal dari lingkungan sekitar anak. Misalkan untuk mengajarkan teknik membanding dapat dilakukan dengan menggunakan 10 bilah tangkai berbagai ukuran yang telah diberi warna agar lebih menarik. Lulu mintalah anak untuk mengurutkan bilah tangkai tersebut mulai dari yang paling pendek sampai yang terpanjang. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN 1. Langkah menunjukkan Guru menyiapkan beberapa kotak dengan isi yang berbeda. a. Kotak pertama berisikan uang logam. b. Kotak kedua berisikan batu kerikil. c. Kotak ketiga berisikan beras. Guru mengeluarkan isi kotak lalu meletakkannya kembali sambil menyebutkannya “ini suara uang logam”. 2. Langkah mengenal Anak mampu membedakan dan mendeskripsikan kembali binyi-bunyi yang berasal dari masing-masing benda tersebut. 3. Langkah mengingat Guru memperdengarkan kembali bunyi benda-benda tersebut satu persatu dan siswa diminta untuk menebaknya.

Rabu, 30 Mei 2012

MODEL PEMBELAJARAN PROYEK

A. Pengertian Pendekatan Metode Proyek Secara harfiah, proyek mempunyai makna maksud atau rencana. Metode proyek adalah suatu jenis kegiatan memecahkan masalah dilakukan oleh perseorangan atau kelompok kecil. Berbeda dengan kegiatan problem solving, dalam metode proyek ini biasanya dihasilkan produk seperti peta, maket, model, diorama dan sebagainya yang mempunyai intrinsik bagi anak didik yang menghasilkan. Metode proyek memungkinkan penyaluran minat anak dan anak pun dapat belajar untuk menelaah dan memandang suatu materi pelajaran dalam konteks lebih luas. Pengetahuan yang diperoleh siswa lebih berarti dan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik, karena pengetahuan itu bermanfaat bagi anak untuk lebih mengapresiasikan lingkungannya, memahami serta memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari
Penyusunan suatu proyek pada dasarnya adalah merencanakan suatu masalah pada berbagai bidang studi (pengembangan) yang memungkinkan murid melakukan berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan anak-anak dalam memahami berbagai pengetahuan. Pengajaran proyek sangat memberikan kesempatan pada anak untuk aktif, mau bekerja dan secara produktif menemukan berbagai pengetahuan. Hal ini tentunya sangan jauh berbeda dengan metode pengajaran tradisional yang menyajikan bidang study (pengembangan) secara terpisah (parsial) antara bidang study satu dengan yang lainnya. Pengajaran model ini hanya dapat menciptakan pola berpikir parsial pada anak didik dalam memahami berbagai aspek pengetahuan. B. Tujuan Tujuan dari model pengajaran proyek yaitu mengaktifkan anak didik dalam kegiatan belajar mengajar serta membiasakan anak untuk berinteraksi kepada lingkungan. Pengajaran proyek sangat memberikan kesempatan pada anak untuk mau bekerja dan secara produktif menemukan berbagi pengetahuan. Guru hanya mengamati dan memantau jalannya kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas. C. Pendekatan 1. Pendekatan Konstruktivisme Pendekatan pembelajaran proyek ini didukung oleh teori belajar konstruktivisme. Teori belajar ini berdasarkan pada ide bahwa anak didik dapat membangun pengetahuannya sendiri dalam konteks pengalaman. Pendekatan pembelajaran proyek ini dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong anak membangun pengetahuan dan keterampilan secara personal. Mereka akan memahami bahan kajian dengan menggunakan bahasa mereka sendiri berdasarkan apa yang mereka lihat, temukan, dan alami. 2. Pendekatan Inkuiri Pendekatan yang melibatkan keterampilan pemerolehan berbagai konsep pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan nilai-nilai yang dilakukannya sendiri melalui sejumlah proses, seperti mengamati, mencari, dan menemukan. 3. Pendekatan Children Centre Pendekatan pembelajaran proyek ini beranggapan bahwa pusat kegiatan pembelajaran bertitik tolak pada aktivitas anak. Anak didik memiliki kemampuan sendiri melalui berbagai aktivitas dalam mencari, menemukan, menyimpulkan serta mengkomunikasikan sendiri berbagai pengetahuan, keterampilan, srta nilai-nilai yang telah diperolehnya. D. Sumber Belajar Sumber belajar yang dapat digunakan dalam model pembelajaran proyek ini antara lain, Lingkungan sekitar anak, televisi, tape recorder, kebun binatang, museum, Taman Mini Indonesia Indah, Taman Buah, atau Taman Impian Jaya Ancol. E. Bentuk-Bentuk Pengajaran Proyek 1. Pengajaran Proyek Total Bentuk ini menghendaki setiap bidang studi (pengembangan) melebur menjadi satu menunjukan keterkaitan dengan bidang studi lain membentuk satu kesatuan yang utuh. 2. Proyek Parsial Bentuk pengajaran proyek kedua adalah pengajaran proyek parsial (bagian). Dalam bentuk ini terdapat penggabungan antara bidang studi (pengembangan) yang berdiri sendiri dengan bidang studi yang saling berhubungan. Bidang studi yang berdiri sendiri diberikan dengan model pengajaran yang lama (biasa) sedangkan bidang studi yang saling berkaitan diberikan dalam bentuk proyek. 3. Proyek Okasional Bentuk proyek seperti ini hanya dilaksanakan pada saat-saat tertentu saja yang memungkinkan dilaksanakan pengajaran proyek , baik secara total maupun parsial. Proyek okasional dapat dilaksanakan sebagai salah satu bentu alternatif untuk menanggulangi kejenuhan anak dalam mengikuti model pengajaran pada sekolah lama. Proyek ini dapat dilaksanakan dalam jangka waktu sebulan sekali, pertengahan semester, atau satu semester sekali. Dalam mendesain pengajaran proyek, tentukan secara jelas terlebih dahulu tema atau pokok masalah yang akan menjadi pusat minat bagi anak. Dengan didasarkan pada minat anak, diharapkan anak mempunyai motivasi serta keingintahuan yang besar terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Berdasarkan tema atau pokok masalah inilah dalam bidang-bidang studi dikaitkan sama lainnya. Penentuan pusat minat anak itu hendaknya didasarkan pada : 1. Adanya ketertarikan anak pada tema atau pokok masalah yang ditentukan. 2. Tema atau pokok masalah hendaknya didasarkan pada perkembangan anak. 3. Tema atau pokok masalah hendaknya ditentukan berdasarkan keadaan lingkungan yang disekitar anak. 4. Tema atau pokok masalah dapat juga ditetapkan berdasarkan isi masing-masing mata pelajaran. F. Langkah-Langkah Pengajaran Proyek Model pengajaran proyek dilaksanakan dengan menggunakan lima langkah sebagai berikut : 1. Langkah Persiapan Guru mempersiapkan tema dan pokok masalah yang akan dilaksanakan dengan menggunakan pengajaran proyek. Setiap isi bidang studi (pengembangan) yang bersesuai dengan tema atau pokok masalah tertentu disusun dan diorganisasikan dalam suatu rencana pengajaran. Dalam langkah pertama, guru hendaknya mengidentifikasi dan merelevansikan isi setiap bidang studi yang akan dilaksanakan dengan pengajaran proyek. Pada tahap persiapan, guru juga harus mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan : 1. Pemberian materi yang akan diberikan secara klasikal. 2. Pemberian bahan pengajaran secara tertulis sehingga anak dapat memiliki pemahaman yang agak mendalam berkaitan dengan isi bahan pelajaran. 3. Jenis-jenis tugas yang dikerjakan anak secara kelompok (5-7 orang) atau perorangan. 4. Menetapkan jumlah jam yang akan digunakan pada setiap jam pelajaran. 5. Rencana perjalanan sekolah yang akan dilaksanakan. 6. Rencana pameran yang akan diselenggarakan oleh anak-anak. 2. Pendahuluan Dalam kegiatan pendahuluan, guru mengadakan percakapan bersama anak-anak secara klasikal tentang tema atau pokok masalah serta bidang studi yang berkaitan sekaligus dapat menjajaki kesanggupan anak dalam mengenal bahan pelajaran serta tugas yang akan dikerjakannya untuk membangkitkan perhatian dan semangat anak-anak untuk melihat, menyelidiki, menyimpulkan dan mengkomunikasikan tentang sesuatu yang ditemukannya. Dalam kegiatan percakapan, guru dapat menulis hal-hal yang sudah dikenal anak serta mengidentifikasikan pokok proyek dalam setiap bidang studi yang akan diselidiki anak. c. Perjalanan Sekolah atau Survey Perjalanan sekolah atau survey dilakukan pada beberapa keluarga atau rumah yang berdekatan dengan lokasi sekolah. Masing-masing murid beserta kelompoknya melakukan pengamatan pada berbagai hal yang menjadi persoalan, misalnya bertanya tentang silsilah keluarga, binatang dan tanaman apa saja yang dipelihara, siapa dan jenis penyakit apa yang pernah diderita anggota keluarga, berapa penghasilan dan apa saja belanjanya, kerajinan ap saja yang dikerjakan keluarga tersebut. Agar perjalanan sekolah berlangsung tertib maka guru harus memberikan dan menanamkan tata tertib pada anak ketika akan melakukan kunjungan, misalnya bersikap dan berbicara sopan, membawa buku catatan. d. Pengolahan Masalah Setelah melakukan kunjungan tiap kelompok secara tertib kembali ke sekolah dengan membawa hasil pengamatan. Semua data yang dikumpulkan kelompok dilaporkan pada guru disampaikan pada diskusi dan laporan pengamatan tiap kelompok dalam presentasi. Secara bergiliran setiap kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk menjelaskan, menyimpulkan dan menyampaikan berbagai temuan sesuai dengan tugasnya. Kegiatan pengolahan masalah selanjutnya dalam dilakukan murid, baik secara individu maupun kelompok, misalnya membuat data silsilah keluarga masing-masing, membuat data jumlah keluarga, data penghasilan dan pengeluaran keluarga, mencatat dan membuat data silsilah keluarga masing-masing, membuat data jumlah keluarga, data penghasilan dan pengeluaran keluarga, mencatat dan membuat data kesehatan keluarga, membuat berbagai bentuk keterampilan yang biasa dikerjakan dalam suatu keluarga, membuat peta dan grafik, menanam jenis tanaman, menggambar dan mewarnai, dan memelihara binatang. Pada tahapini sangat terlihat kesibukan para murid dalam mengerjakan tugasnya. Dengan demikian kelas memperlihatkan fungsinya sebagai labolatorium dan disinilah konsep ‘lerning by doing’ diwujudkan oleh Kilpatrick sebagai kelanjutan dari pengembangan konsep pendidikan Dewey. e. Pameran Pameran dirancang dan dilaksanakan dari dan oleh anak itu sendiri. Anaklah yang menyusun meja kursi menjadi stan pameran. Anak juga yang menghias stan pameran tersebut. Guru lebih banyak bertindak sebagai pengawas dan pembimbing anak-anak dalam mempersiapkan stan pameran sebaik mungkin. Pada hari yang telah ditentukan, para orang tua dan keluarga sekitar sekolah berpartisipasi untuk hadir melihat, mengamati, bertanya dan memberikan berbagai tanggapan pada berbagai stan yang disiapkn anak-anak.

Selasa, 29 Mei 2012

Creative Problem Solving Learning Model

Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu aktivitas tertentu. Dalam pengertian lain, model diartikan sebagai barang tiruan, metafor, atau kiasan yang dirumuskan. Pouwer (1974:243) menerangkan tentang model dengan anggapan seperti kiasan yang dirumuskan secara eksplisit yang mengandung sejumlah unsur yang saling tergantung. Sebagai metafora model tidak pernah dipandang sebagai bagian data yang diwakili. Model menjelaskan fenomena dalam bentuk yang tidak seperti biasanya. Setiap model diperlukan untuk menjelaskan sesuatu yang lebih atau berbeda dari data. Syarat ini dapat dipenuhi dengan menyajikan data dalambentuk: ringkasan (tipe, diagram), konfigurasi ( structure ), korelasi (pola), idealisasi, dan kombinasi dari keempatnya. Jadi model merupakan kiasan yang padat yang bermanfaat bagi pembanding hubungan antara data terpilih dengan hubungan antara unsur terpilih dari suatu konstruksi logis. Model pembelajaran merupakan kerangka yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pemandu bagi para perancang desain pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar (Soekamto, 1997:78),. Menurut Mitchell dan Kowalik (Rahman, 2009:8): Creative, an idea that has an element of newness or uniqueness, at least to the one who creates the solution, and also has value and relevancy. Problem, any situation that presents a challenge, an opportunity, or is a concern. Solving, devising ways to answer, to meet, or to resolve the problem . Therefore, creative problem solving or cps is a process, method, or system for approaching a problem in an imaginative way and resulting in effective action. Sedangkan menurut Karen (Dewi, 2008:28) model Creative problem Solving (CPS) adalah model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan keterampilan pemecahan masalah, yang diikuti dengan penguatan keterampilan. Model Creative Problem Solving (CPS) pertamakali dikembangkan oleh Alex Osborn pendiri The Creative Education Foundation (CEF) dan co-founder of highly successful New York Advertising Agenncy . Pada tahun 1950-an Sidney Parnes bekerjasama dengan Alex Osborn melakukan penelitian untuk menyempurnakan model ini. Sehingga model Creative Problem Solving ini juga dikenal dengan nama The Osborn-parnes Creative Problem Solving Models. Pada awalnya model ini digunakan oleh perusahaan-perusahaan dengan tujuan agar para karyawan memiliki kreativitas yang tinggi dalam setiap tanggungjawab pekerjaannya, namun pada perkembangan selanjutnya model ini juga diterapkan pada dunia pendidikan. Langkah-langkah dalam CPS menurut William E. Mitchell dan Thomas F. Kowalik (Rahman, 2009:10) adalah: a. Mess-finding (menemukan masalah yang dirasakan sebagai pengganggu) Tahap pertama, merupakan suatu usaha untuk mengidentifikasi situasi yang dirasakan mengganggu. b. Fact-finding (menemukan fakta) Tahap kedua, mendaftar semua fakta yang diketahui yang berhubungan dengan situasi tersebut, yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi informasi yang tidak diketahui tetapi esensial pada situsi yang sedang diidentifikasi dan dicari. c. Problem-finding (menemukan masalah) Pada tahap menemukan masalah, diupayakan mengidentifikasi semua kemungkinan pernyataan masalah dan kemudian memilih yang paling penting atau yang mendasari masalah. d. Idea-finding Pada tahap ini diupayakan untuk menemukan sejumlah ide atau gagasan yang mungkin dapat digunakan untuk memecahkan masalah. e. Solution-finding Pada tahap penemuan solusi, ide-ide atau gagasan-gagasan pemecahan masalah diseleksi, untuk menemukan ide yang paling tepat untuk memecahkan masalah. f. Acceptance-finding Berusaha untuk memperoleh penerimaan atas solusi masalah, menyusun rencana tindakan dan mengimplementasikan solusi tersebut. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran CPS menurut Pepkin (Dewi, 2008:30) terdiri dari langkah-langkah: a. Klarifikasi Masalah Klasifikasi masalah meliputi penjelasan mengenai masalah yang diajukan kepada siswa, agar siswa memahami penyelesaian seperti apa yang diharapkan. b. Pengungkapan Pendapat Pada tahap ini siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat tentang bagaimana macam strategi penyelesaian masalah. Dari setiap ide yang diungkapkan, siswa mampu untuk memberikan alasan. c. Evaluasi dan Pemilihan Pada tahap evaluasi dan pemilihan ini, setiap kelompok mendiskusikan pendapat-pendapat atau strategi mana yang cocok untuk menyelesaikan masalah d. Implementasi (penguatan) Pada tahap ini siswa menentukan strategi mana yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah, kemudian menerapkanya sampai menemukan penyelesaian dari masalah tersebut. Selain itu, pada tahapan implementasi, siswa diberi permasalahan baru agar dapat memperkuat pengetahuan yang telah diperolehnya.

Senin, 28 Mei 2012

EKSPERIMEN LEARNING MODEL

Keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) tergantung pada banyak faktor, salah satunya adalah metode mengajar yang dilakukan oleh pendidik (guru). Guru yang mengajar dengan metode yang tepat akan membuat siswa senang, tekun, antusias, dan mudah memahami materi pelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. (
Ada berbagai macam metode mengajar yang dapat dilakukan oleh guru antara lain metode ceramah, diskusi, tanya jawab, brainstorming, eksperimen, resitasi, demonstrasi, bermain peran, kerja kelompok, dan karya wisata. Salah satu metode mengajar yang penting dan erat kaitannya dengan pembelajaran IPA adalah metode eksperimen. Metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar di mana guru bersama siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dari hasil percobaan itu. Misalnya, ingin memperoleh jawaban tentang kebenaran sesuatu, mencari cara-cara yang lebih baik, mengetahui elemen atau unsur-unsur apakah yang ada pada suatu benda, ingin mengetahui apakah yang akan terjadi, dan sebagainya. Metode eksperimen ialah suatu tuntutan demi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi agar menghasilkan suatu produk yang dapat dinikmati masyarakat secara umum. Eksperimen pun dilakukan orang agar diketahui kebenaran suatu gejala dan dapat menguji dan mengembangkannya menjadi suatu teori, kegiatan eksperimen yang dilakukan peserta didik merupakan kesempatan mereka melakukan suatu eksplorasi. Mereka akan memperoleh pengalaman meneliti yang dapat mendorong mereka untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri, berpikir ilmiah dan rasional serta lebih lanjut pengalamannya itu bisa berkembang di masa mendatang. Metode eksperimen atau percobaan diartikan sebagai cara belajar mengajar yang melibatkan aktifnya peserta didik dengan mengalami dan membuktikan sendiri proses dan hasil percobaan itu. Adapun tujuan dari metode eksperimen ini adalah: (a)Agar peserta didik mampu mengumpulkan fakta-fakta, informasi atau data yang diperoleh (b) Melatih peserta didik merancang, mempersiapkan, melaksanakan dan melaporkan percobaan (c) Melatih peserta didik menggunakan logika berpikir induktif untuk menarik kesimpulan dari fakta, informasi atau data yang terkumpul melalui percobaan (menurut buku sumber: dari diktat) Langkah-langkah metode eksperimen (a) Persiapan, Menyiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan eksperimen (b) Pelaksanaan, Siswa dibimbing oleh guru melaksanakan eksperimen (c) Evaluasi, Siswa membuat kesimpulan dari hasil pengamatan dan mengisi lembar pengamatan yang disediakan. Kelebihan Metode Eksperimen (a) Metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau membaca buku. (b) Siswa dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi. c) Metode ini dapat menumbuhkan dan membina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan hasil percobaan yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.

MAKE A MATCH LEARNING MODEL

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti ujian PKM (Pemanapan Kemampuan Mengajar) di MI WS Salakbrojo Kedungwuni Pekalongan. Sesuai dengan undian yang ada, saya mendapatkan materi untuk mengajar Bahasa Indonesia kelas 3. Terbersit dipikiran saya adalah pembelajaran di dalam kelas harus asik dan menenangkan untuk siswa saya. Adalah model pembelajaran Make a Match inilah yang menurut saya cocok untuk siswa kelas 3 yang masih merupakan kelas rendah.
Model Pembelajaran Make a Match artinya model pembelajaran Mencari Pasangan. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia pegang. Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran Make a Match akan riuh, tetapi sangat asik dan menyenangkan. Langkah-langkah pembelajaran Make a Match adalah sebagi berikut : 1.Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2.Setiap siswa mendapat satu buah kartu. 3.Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. 4.Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. Artinya siswa yang kebetulan mendapat kartu ‘soal’ maka harus mencari pasangan yang memegang kartu ‘ jawaban soal’ secepat mungkin. Demikian juga sebaliknya. 5.Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 6.Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. 7.Demikian seterusnya sampai semua kartu soal dan jawaban jatuh ke semua siswa. 8.Kesimpulan/penutup. Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.

Minggu, 20 Mei 2012

METODE PEMBELAJARAN EKSTRIM

Sebagai seorang guru dipastikan kita sering menjumpai berbagai fenomena nyata khususnya pada keadaan peserta didik kita baik
dalam hal kerajinan, kedisiplinan, etika, dan minat belajar mereka. Dari berbagai fenomena yang kompleks tersebut, seorang guru pun dituntut memiliki metode pembelajaran yang kompleks pula, kompleks dalam arti memiliki banyak cara, banyak inisiatif, banyak alternatif yang bersifat kreatif dan inovatif, selain itu seorang guru harus banyak bersabar pada muridnya untuk mengulang materi, menjelaskan ulang, membimbing mereka, sehingga mereka nantinya selain menjadi menjadi manusia yang berkualitas mereka juga mempunyai karakter yang baik, matang serta stabil. Terlebih lagi pada era globalisasi seperti sekarang ini guru harus banyak belajar untuk selalu mengembangkan kemampuannya dalam upaya meningkatkan kualitas maupun efektifitas pembelajaran, peningkatan SDM guru ini perlu terus-menerus dilakukan akibat dampak dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang cepat ini. Teknik mengajar yang baik dan benar bagi seorang guru merupakan hal yang sangat vital dalam menentukan efektif tidaknya sebuah pembelajaran. Alhasil seorang guru harus selalu berevolusi, dinamis dan terbuka dalam menerima hal yang baru, bukan hanya aktif dalam mengembangkan kemampuannya, namun juga proaktif dalam menyikapi setiap fenomena yang cenderung fluktuatif dan dinamis khususnya dalam dunia pendidikan sekarang ini, usaha untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalitas guru tersebut dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan, diantaranya mengikuti kegiatan-kegiatan maupun program-program yang berkaitan dengan pengembangan diri secara umum hingga pengembangan terkhusus yang berkaitan dengan peningkatan profesionalitas kinerja guru, misalnya dengan mengikuti seminar-seminar pendidikan, KKG, MGMP, browsing di internet dan sebagainya. Kita semua sependapat bahwa di era kemajuan teknologi yang telah mendunia ini memiliki dampak dan konsekuensi yang sangat besar dan kompleks, bagai pisau bermata dua, sisi lain memberikan dampak positif yang luar biasa namun di sisi lainnya memberikan dampak negatif yang luar biasa pula. Namun sebelum kita membahas tentang dampak dari kemajuan TIK dunia, sebelumnya kita lihat apa saja produk yang dihasilkan di era kemajuan ini, yang kesemuanya itu terlahir dari buah pikiran serta buah tangan dari manusia-manusia yang unggul, manusia yang tidak berhenti belajar, berani mencoba dan mencoba lagi pantang menyerah. Banyak sekali produk dari era kemajuan di zaman teknologi sekarang ini di antaranya: 1. Koran atau media cetak berkembang pesat baik yang konvensional hingga media masa online, 2. Televisi dan radio yang telah mendunia dengan channel yang semakin bertambah dengan signal yang mudah didapatkan, 3. Sambungan telepon atau jaringan telepon seluler pun sudah memasyarakat, 4. Sistem komputerisasi telah diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan, 5. Banyaknya inovasi maupun kreativitas baru dalam menghasilkan fasilitas maupun produk canggih, baik di bidang komunikasi, elektronik, otomotif, robotic, dan lain sebagainya. Dari berbagai produk di atas tentu kesemuanya menjanjikan kemudahan, fleksibilitas, efisiensi, fitur atau fasilitas canggih dan yang terpenting adalah kualitas yang semakin meningkat dari masa kemasa. Sehingga pada saat sekarang ini, jarak dan waktu tidak lagi menjadi masalah baik dari aspek komunikasi hingga transportasi. Kemudian beberapa hal yang paling berpengaruh di era globalisasi sekarang selain dari hal-hal yang telah disebutkan di atas yaitu adanya perkembangan internet yang berkembang pesat, internet atau interconnection networking adalah sistem global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung, saat ini fasilitas internet dapat dinikmati bukan hanya di warnet (warung internet) saja, namun layanan ini telah banyak tersedia pada beberapa jenis handphone yang telah menyediakan fitur untuk koneksi internet via mobile, dengan adanya modem mobile internal inilah pengguna handphone dapat langsung “berinternet ria” via mobile internet di hp mereka dengan lebih fleksibel dan efisien. Selain itu beberapa handphone jenis tertentu dapat digunakan sebagai modem eksternal untuk koneksi internet baik dari note book, laptop hingga PC anda tanpa mengganggu lalu lintas panggilan dan pesan yang masuk ke hp kita. Layanan internet atau lazim kita sebut dunia maya ini memberikan banyak manfaat positif bagi guru maupun siswa, di antaranya : 1. Mudah untuk menemukan maupun mencari informasi yang ingin kita ketahui dalam waktu yang relatif singkat, misalnya pencarian web, gambar, audio, video atau pun file-file dalam format lainnya dengan hanya menuliskan kata kunci pada mesin pencari (search engine) saja; seperti di google, yahoo ataupun bing. 2. Sebagai sarana publikasi yang efektif dan mendunia, karena informasi yang telah kita publikasikan di internet akan dapat diakses oleh seluruh pengguna internet di seluruh dunia misalnya • Share tentang pendidikan melalui jejaring sosial facebook ataupun twiter. • Sarana publikasi sekolah, blog atau situs pribadi guru dll. Publikasi sekolah dapat menggunakan berbagai situs dari hosting berbayar hingga yang gratis seperti wikipedia, blog ataupun website. • Iklan online, berita online hingga bisnis online. 3. Penyampaian laporan-laporan sekolah kepada pihak lain, pengiriman surat atau dokumen dalam berbagai format baik word, excel, pdf, photo, mp3, video maupun file-file dalam format lainnya. Pengiriman file ini dapat dilakukan dengan menggunakan fasilitas surat elektronik atau email seperti : gmail atau pun yahoo mail. 4. Dapat mendownload atau mengambil (mengunduh) file dari internet sekaligus dapat mengupload (mengunggah) file ke internet. 5. Chating (bercakap-cakap antar pengguna internet yang sedang online) baik dalam bentuk tulisan, isyarat, kode, gambar bahkan melalui video streaming dengan gambar live dan suara layaknya bertemu langsung antar komunikan. 6. Pengguna dapat mendengarkan musik, radio, hingga menonton video maupun televisi online melalui koneksi internet. 7. Dan lain-lain. Dari berbagai manfaat positif dari penggunaan layanan internet di atas, tentu banyak juga akibat negatif yang ditimbulkan dari pengguna internet yang salah guna, di antaranya : 1. Dengan mudahnya menyebarluaskan informasi, banyak penipuan berawal dari informasi di internet. 2. Sebagian siswa kecanduan game online sehingga menyebabkan kuantitas dan kualitas belajarnya berkurang. 3. Kurangnya peran aktif orang tua dalam memantau anak dalam berhubungan dengan dunia maya atau internet sehingga banyak tulisan, gambar, video maupun tontonan yang tidak senonoh dapat mereka konsumsi dengan bebas dan tak terbatas, hal ini menyebabkan degradasi mental dan merusak pikiran anak secara tajam. 4. Tindak kriminalitas seperti penculikan anak, human trafficking (penjualan manusia) juga sering terjadi disebabkan adanya informasi dan komunikasi antar pengguna melalui jejaring sosial yang tidak terbatas sekarang ini. Setelah kita membaca uraian singkat tentang plus-minus internet di atas, tentu kita sebagai guru merasa miris terhadap pergaulan maupun tingkah laku peserta didik kita khususnya pada sekolah yang berada di lingkungan kota yang secara umum cenderung lebih kompleks pengaruh dari produk globalisasi sekarang ini, namun hal ini pun bukanlah hukum yang mutlak lagi, karena pada akhir-akhir ini pengaruh globalisasi sudah mulai merambah hingga ke daerah pelosok atau daerah yang jauh dari perkotaan seiring dengan penyebaran akses telekomunikasi seluler yang semakin luas hingga ke pelosok daerah, tentu layanan telekomunikasi seluler ini juga menghadirkan layanan akses ke internet di dalamnya. Selain internet, produk globalisasi yang dampak positif dan negatifnya tidak bisa kita anggap remeh adalah televisi, televisi pun dipastikan hampir setiap rumah memilikinya, dan saat ini televisi bukanlah barang mewah lagi. Sebagai contoh untuk daerah di lingkungan SMPN Satu Atap Sungai Karang pun yang notabene belum tersedia jaringan listrik PLN saat ini pun hampir setiap rumah memiliki televisi yang dapat dioperasikan dengan daya diesel maupun genset. Banyak program ataupun acara di televisi yang bagus untuk pelajar, seperti pada chanel televisi edukasi yang hampir 100% programnya membahas tentang pendidikan maupun pada program-program di chanel lain yang pada waktu-waktu tertentu menayangkan program (acara) tentang pendidikan. Di samping itu televisi juga banyak menayangkan berbagai macam acara yang tidak sesuai dengan anak, tentu untuk menekan akibat negatif dari tontonan di televisi ini, orang tualah yang bertanggung jawab penuh dalam membimbing, mengawasi dan mengontrol anak ketika menonton televisi di rumah. Hingga saya pun berkesimpulan bagi anak yang kurang pengarahan, pengawasan atau kontrol, baik dari guru, orang tua bahkan kontrol yang lebih besar yaitu dari masyarakat, sudah barang tentu akibat dari penggunaan fasilitas internet, televisi maupun media masa, majalah, media komunikasi salah guna lainnya yang telah dikonsumsi anak dapat menimbulkan dampak negatif yang kompleks pada anak. Dampak negatif yang kompleks pada anak tersebut akan menyebabkan mental bahkan tanpa mereka sadari sedikit demi sedikit menjelma pada tingkah laku anak, dan jika hal ini terus dibiarkan saya yakin cepat atau lambat mereka akan menjadi anak yang “ekstrim”. Mentalitas ekstrim pada anak dalam artian anak memiliki paradigma sendiri tentang sikap dan tingkah laku yang salah tapi mereka anggap benar, pemahaman yang menyimpang tapi mereka anggap benar, dan beberapa bentuk ekstrimisme-ekstrimisme lainnya yang tentu tidak baik bagi hubungan individu, keuarga dan sosial mereka hingga akhirnya egoisme yang berlebih yang mengagungkan kebenaran pribadi menjadi titik puncak akibat adanya mentalitas ekstrim ini, selanjutnya mentalitas ekstrim ini otomatis akan berimplikasi pula pada tingkah laku, pola hidup bahkan kebiasaan hidup anak dalam kehidupan sehari-harinya. Banyak macam dan peristiwa yang mencerminkan tingkah laku yang tidak baik namun telah dilakukan oleh beberapa oknum pelajar ini di antaranya : • Perkelahian atau bentrok fisik antar pelajar bahkan antar sekolah. • Anak tidak sopan terhadap guru bahkan orang tuanya. • Pergaulan bebas hingga menyebabkan kehamilan pada pelajar. • Materialisme anak yang berlebih, sehingga mereka menuntut pada orang tuanya untuk mewujudkan keinginannya itu tanpa mau mengerti keadaan orang tuanya. Salah satu contohnya anak minta paksa untuk dibelikan motor baru pada orang tua tanpa mempertimbangan keadaan ekonomi orang tua. • Tidak ada perhatian terhadap materi yang disampaikan oleh guru saat di dalam kelas. Sebagai guru yang telah mendapati salah satu sikap yang ekstrim di atas atau pun sikap ekstrim lain yang mencerminkan tingkah laku yang tidak baik pada anak atau pun pelajar selayaknya guru harus menerapkan metode pembelajaran yang tepat, sebab jika guru salah dalam menerapkan metode pembelajaran, pembimbingan maupun pengarahan pada anak tersebut, maka bukan tidak mungkin perubahan positif yang diharapkan akan sulit direalisasikan. Hal ini terjadi akibat tuntutan zaman yang semakin maju pesat dan kompleks ini, kita pun dituntut untuk menerapkan metode maupun teknik pembelajaran yang terus berkembang pula. Saat ini metode pembelajaran yang “ekstrim” pulalah yang tepat untuk anak didik kita, selain sebagai upaya dalam mengatasi ekstrimisme-ekstrimisme siswa tadi sekaligus sebagai metode dan teknik baru dalam memperkaya khasanah keilmuan khususnya dalam aspek pembelajaran yang berusaha menjadikan suasana pembelajaran yang edukatif yang positif, efektif (berhasil guna) serta aplikatif. Metode pembelajaran yang “ekstrim” bukanlah pembelajaran yang berarti pembelajaran yang keras dan berlebihan, apalagi metode pembelajaran yang membahayakan...???. Pembelajaran EKSTRIM adalah pembelajaran yang berusaha memanifestasikan nilai-nilai serta sikap-sikap positif kehidupan kita sehari-hari dalam proses belajar mengajar di sekolah, nilai-nilai serta sikap-sikap positif itu antara lain; Elaboratif. Konstruktif, Santun, Tegas, Rasional, Inspiratif dan Modern. Guru yang dapat menerapkan pembelajaran EKSTRIM secara sempurna akan mendapati perubahan yang signifikan khususnya mengenai motivasi dan kesadaran siswa dalam belajar ikhlas, selanjutnya kesadaran ini akan mengantar siswa dalam meraih masa depan yang cemerlang. Penjabaran dari metode pembelajaran maupun teknik pembelajaran yang Elaboratif. Konstruktif, Santun, Tegas, Rasional, Inspiratif dan Modern (EKSTRIM) ini dapat saya uraikan secara singkat, sebagai berikut. 1. Elaboratif Elaboratif merupakan metode pembelajaran yang mengedepankan kejelasan materi ataupun pembahasan yang disampaikan secara detail sekaligus rinci. Jadi, dalam penyampaian materi, pemahaman guru harus optimal atau maksimal terhadap setiap materi atau pembahasan yang disampaikan kepada peserta didik (siswa). Secara teknis metode pembelajaran yang elaboratif dapat dideskripsikan sebagai berikut : • Tahap persiapan, sebelum mengajar lakukan sharing materi atau pembahasan anda pada guru kelas atau guru bidang studi lain, mungkin ada beberapa istilah kata ataupun teori yang berhubungan dengan bidang studi lain yang lebih detail penjelasannya atau mungkin bahkan sudah pernah disampaikan pada siswa atau kelas yang akan anda bimbing. Hal ini dilakukan untuk menghindari perbedaan persepsi siswa terhadap guru-gurunya, jangan sampai antara guru satu dengan guru yang lainnya berbeda pemahaman terhadap sebuah sub pokok bahasan namun penjelasan guru yang satu dengan yang lainnya berbeda. • Penyampaian materi disampaikan oleh guru dengan susunan bahasa yang baik dan benar, intonasi yang tepat, mimik muka serta ekspresi anggota badan maupun tubuh yang mencerminkan penjiwaan yang sinkron dengan tema bahasan, hal ini jelas akan memudahkan siswa dalam memahami sebuah bahasan atau materi. • Materi disajikan secara terstruktur dan sistematis. • Di sela-sela penyampaian materi, siswa diijinkan bertanya tanpa harus menunggu guru selesai menyampaikan materinya. Hal ini dilakukan agar siswa memahami materi pembahasan secara komprehensif (menyeluruh). 2. Konstruktif Materi dan pembahasan yang disampaikan harus bersifat membangun dan baik karena target pendidikan identik dengan perbaikan, peningkatan SDM secara universal, bukan hanya kegiatan formil semata namun inti dari seluruh kegiatan pendidikan ini adalah formula kehidupan yang aplikatif dan efektif dalam mencapai taraf kehidupan yang lebih berkualitas pada siswa nantinya. seandainya pun menggunakan alat peraga dalam penyampaian materi atau pembahasan jangan sampai melakukan tindakan destruktif atau merusak di hadapan siswa. 3. Santun Nasehat yang terbaik adalah keteladanan, sikap guru yang santun serta ramah baik di dalam dan di luar sekolah adalah teladan yang baik bagi siswa dan masyarakat, namun sikap santun kepada siswa di sekolah atau di kelas bukanlah seperti anak yang menghormati orang tuanya, namun seperti orang tua yang mau menghargai anak-anaknya, sehingga terciptalah suasana yang bersahabat dan damai. Terlebih lagi santun serta menghargai setiap siswa dalam proses belajar mengajar adalah kunci seorang guru dalam menciptakan suasana kekeluargaan yang otomatis terciptalah ikatan batin yang positif antara siswa dengan gurunya seperti dekatnya hubungan perasaan antara anak dengan orang tuanya, hal ini akan menimbulkan antusiasme dalam belajar yang ikhlas karena metode pembelajaran yang santun ini sasarannya adalah membuka hati dan perasaan siswa untuk menerima hal-hal baru secara sadar dan ikhlas, untuk selanjutnya ketenangan hati itulah yang akan merefresh otak mereka dalam menerima transfer of knowledge saat itu. 4. Tegas Ketegasan bukanlah kekerasan dan kekerasan bukanlah ketegasan, ketegasan adalah sikap yang pasti dalam memutuskan, pilihan jawabannya adalah ya atau tidak, tidak ada jawaban yang meragukan bagi siswa. 5. Inspiratif Di sela-sela proses pembelajaran, alokasikan waktu sekitar 5 menit untuk menyampaikan beberapa kata-kata yang membangkitkan semangat, kata-kata mutiara yang berintikan motivasi, contoh kalimat yang bisa membangkitkan semangat belajar siswa, seperti; Untuk menjadi pintar memang sulit, tapi lebih sulit lagi kalau tidak pintar. Jati diri bukan dicari, tapi diciptakan, Di mana ada kemauan, di situ ada jalan, Bakat belum tentu mempunyai minat, namun minat dapat menciptakan bakat dan lain sebagainya. Selain itu kita dapat juga menceritakan biografi singkat tentang kisah-kisah orang yang telah sukses, bisa juga tentang hal-hal lain yang sekiranya dapat menyalakan api semangat dalam mewujudkan setiap cita-cita mereka, beri keyakinan yang mendalam akan pentingnya belajar dan berusaha, karena belajar adalah bagian dari usaha itu sendiri. Pelajar berprestasi atau bahkan kisah-kisah orang sukses saat ini, namun yang menjadi highligh dari kisah sukses yang inspiratif diceritakan saat umur sebaya dengan siswa, hal ini akan menimbulkan semangat baru, menjadi motivasi bahkan kreatifitas, inovasi lahir dari sebuah inspirasi (hikmah) Usahakan setiap tatap muka selalu sediakan waktu khusus untuk menginspirasi siswa, terlebih jika kita sebagai guru mereka bisa menjadi sosok yang inspiratif bagi mereka. 6. Modern Gunakan pendekatan yang sesuai dengan jaman mereka untuk mengarahkan siswa, karena mereka lahir di jamannya, bukan lahir di jaman kita. Oleh karena itu, jelas bahwa secara pendidikan alamiah saja, pendidikan alam yang dia alami sangat berbeda jauh dengan apa yang kita alami, sehingga mindset mereka secara alamiah sedemikian rupa dan pastinya jauh berbeda dengan mindset mereka.